Kedjajaan sambal ulek di rumah, di kontrakan, di kost, atawa di penginapan. Pelan namun pasti mulai redup seiring dengan maraknja industri sambal kemasan jang beredar masif di kampung².
Tjobek tanah liat tampak menggoda lidah dengan sambal jang tumpah² hingga meluap sampai bibir. Saksi bisu betapa geliat usaha para ibu rumahtangga jang telaten bangun pagi, ber-puluh² tahun lalu. Rabu (03/10/2018). Pagi itu tepat pada pukul 07.09 WIB.
Masa depan tjobek kini sedang berada di ambang senja. Tjitarasa sambal alami jang dihasilkan dari proses ulekan tjobek kini seolah harus menjerah pada modernitas. Kemadjuan teknologi semakin meminggirkan peran tjobek, tak djarang ia hanja sebagai pemanis hidangan di restoran.
*****
Pagi, sinar matahari belum tembus ke dalam kamar, sinarnja terhalang dinding rumah. Dua–tiga ketjoa dewasa berlari mentjoba sembunji. Dua ekor tjitjak tampak bersih² di sudut langit² kamar, ekornja bergojang lintjah, sorot matanja fokus ke sasaran. Hap! Satu njamuk naas tersambar lidah tjitjak.
Mereka, kedua tjitjak itu bukan pasangan resmi, maklum sadja, mereka tidak memerlukan birokrasi tjatatan sipil. Tak ada istilah suami dan istri. Tak ada tjitjak djantan jang mengantarkan tjitjak betina atau anak perempuannja bekerdja di langit² kamar, beli wafer, pamer sepatu baru, nongkrong dengan tas kulit buaja, atawa ngopi pagi sambil merokok.
Wadjah² binatang itu tampak gembira, apalagi ketika musim kawin tiba.
*****
Rutinitas inilah jang biasa aku temui setiap pagi, setiap hari. Sudah hampir tiga bulan terachir. Pagi jang sederhana.
Kini pagi terasa istimewa sedjak kalimat pagi itu sendiri diakuisisi oleh industri kopi sachet, sebagai penjemangat memulai hari.

Komentar
Posting Komentar