Kebahagian dasar generasi milenial itu bisa ngopi dan ketemu koneksi Wi-Fi. Berebut tempat nyaman di pojokan, berebut paling dekat dengan kotak colokan pengisi daya gawai, berebut paling dekat dengan pemancar sinyal Wi-Fi dan berebut suasana tanpa gangguan dan berebut menunduk ke layar gawai. Persis seperti anak kecil yang kebetulan aku temui di warung kopi tadi siang. Rabu (10/10/2018). Pada setiap jaman, anak-anak punya caranya sendiri untuk bahagia, sementara kita yang telah berumur (karena tidak baik jika dikatakan: sudah termakan usia) merasa beruntung, merasa lebih bahagia, merasa lebih manusiawi dan selalu merasa lebih sehat sebab bisa berkembang dengan segala macam permainan tradisional. Lantas dengan jumawa mengatakan bahwa pengalaman kebahagiaan pada jamannya lebih berkualitas. Bisa jadi anak-anak jaman milenial saat ini akan merasa beruntung tatkala bercerita kepada generasi selanjutnya. Mendongeng dan membual atas pengalaman kebahagiaannya yang sempurna. Setiap keb...
Langit semalam tak mendung, hitam kelam bertabur kelap-kelip sinar bintang, suhu udara tak dingin bisa dikatakan cukup panas. Hembusan angin tak banyak beredar, seakan sengaja menyusun perencanaan senyap. Rabu (03/10/2018). Penampakan dua ekor spesies unggas dalam gambar yang aku unggah ini, di kampung tempat tinggalku biasa dikenal dengan sebutan Entok. Berkaitan dengan dua makhluk tak berdosa itu aku harus mengakui laku biadabku semalam. Dengan berat hati aku harus mewartakan ini kepada kawan-kawan semua, bahwasanya dua ekor spesies yang tak bisa melawan dan menuntut itu telah masuk ke dalam waduk ( baca: perut ) buncitku, dan tentu saja bentuk pertumbuhan perut buncitku semakin tidak sedap dipandang mata. ( Urusan kari iku ) Tadi malam saat mulut dengan lahap menikmati serat lembut daging unggas dengan sambal goreng yang mantap betul itu, tak ada sedikitpun rasa curiga. Rasa daging Entok memang mantap, nikmat, dan lezat. Hingga hari berganti. Kamis (04/10/2018)...