Beberapa hari sebelumnya kawan Faliqul Isbah sudah membuat janji ketemu. Kemarin, pagi-pagi sekali dia benar-benar datang lebih dulu ke rumah. Keperluannya kali ini sangat serius. Ada berkas penting yang ketinggalan di rumah. Lebih tepatnya berkas itu ketinggalan di rumah berbulan-bulan yang telah lalu. Tapi baru tersadar beberapa hari terakhir ini.
😁 Sabtu. (06/10/2018).
Tangan dan jemarinya gesit memilah setiap kertas yang berserakan dan berdebu. Bagai mencari surat cinta di tumpukan lembar jawaban soal ujian negara. Setengah jam berlalu, tak jua dia menemukan berkas yang dia cari. Putus asa pun datang dan dia menyerah pasrah. Aku ikut prihatin untuk setiap hal yang hilang, hanya saja prihatinku cukup dalam hati. Selebihnya mau ketawa, tapi tak enak hati.
Dia balik entah kemana, aku sendiri tak begitu peduli. Ragaku kembali diserang kantuk, aku terlelap. Sialnya gawaiku masih aktif saat melanjutkan tidur. Hari sudah beranjak siang dan bunyi gawai membuyarkan mimpi. Dia kembali meneleponku untuk ngajak ngopi siang itu. Apa boleh buat, aku terbangun juga, lagipula tak mungkin nyenyak kalau memaksakan diri tidur lagi.
Sampai di warung kopi aku berkumpul dengan para begundal lama. Ada Faliqul Isbah, Dens Haffez dan Muhammad Zamharil AR berempat kami melewatkan waktu dan bercengkrama.
Mula-mula aku tak begitu paham akal bulus kawan-kawan ku ini. Aku diam, mengikuti alur pemikiran dan isyarat mereka. Dens Haffez Pemuda penikmat konten di kanal YouTube ini memulai gojekannya. "Di, gak turu awan ta, koe? Engko sore tangi, wayae ngimami sholat ashar." Ucap Dendi dengan ketawa kemenangan. Aku ikut ketawa. Degup jantungku bersiap dengan gojekan selanjutnya.
Apa yang aku kira akhirnya terjadi juga, kala kaji Muhammad Zamharil AR ikut menambah gebyar suasana. Pelawak yang tercebur ke dunia politik praktis ini ikut menorehkan jejaknya, pada siang yang terik saat itu. Sebagaimana pandai besi yang turun gunung dari pertapaan, bibir manisnya mulai komat-kamit merapalkan mantra sakti. "Hidup dalam naungan semayan." Katanya singkat dengan mimik serius dan kami semua ketawa ngakak. Menertawakan jalannya peradaban politik menjelang pemilihan demi pemilihan.
Usai ketawa puas, lambung kami berempat merasa lapar. Kami beralih tempat ke warung makan di desa Kemantren. Menikmati ikan asap dan sambal petis, dimana rasa pedisnya, naudubillah mindalik.
Masing-masing dari kami balik ke rumah setelah perut kenyang dari warung makan. Sampai di rumah aku kembali diserang kantuk. Terlelap kembali. Akhir pekan yang aneh, ya sudah, tidur saja.


Komentar
Posting Komentar